Dalam kehidupan, kita seringkali terjebak menilai orang lain dari hal-hal lahiriah: kekayaan, jabatan, kecerdasan, atau penampilan luar. Padahal, semua itu hanyalah sementara. Kekayaan bisa sirna, jabatan bisa dicopot, kecerdasan bisa hilang, dan rupa yang indah pun akan menua. Jika ukuran kita hanya berhenti pada hal-hal duniawi, maka sesungguhnya kita sedang menilai sesuatu yang fana, bukan hakikat yang sejati.
Pandangan Allah Berbeda dengan Pandangan Manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini membuka mata kita: ukuran kemuliaan bukan pada apa yang tampak di luar, melainkan pada kebersihan hati dan amal saleh yang lahir darinya. Maka, jika ingin bersikap adil dalam menilai seseorang, belajarlah menimbang sebagaimana Allah menimbang.
Amal Saleh dan Takwa: Ukuran Kemuliaan Sejati
Al-Qur’an menegaskan:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Artinya, bukan kekayaan, bukan kecerdasan, bukan pula kedudukan, melainkan takwa yang menentukan kemuliaan di sisi Allah. Seorang mukmin yang istiqamah dalam ibadah, rendah hati dalam amal, dan bersih hatinya dari kesombongan, dialah yang sejatinya layak dikagumi.
Rasa kagum yang benar bukan ditujukan kepada orang kaya atau terkenal, melainkan kepada mereka yang kuat iman, luas ilmunya, serta banyak amal salehnya. Inilah bentuk ghibthah—rasa iri positif—yang justru dianjurkan, karena memotivasi kita untuk meneladani kebaikan tanpa mengharap hilangnya nikmat orang lain.
Mengapa Dunia Tidak Layak Dijadikan Ukuran?
- Kekayaan hanyalah titipan, bahkan bisa menjadi ujian berat yang menjerumuskan jika salah kelola.
- Kecerdasan tanpa iman justru dapat melahirkan kesombongan.
- Kedudukan bisa menipu, karena mudah melalaikan hati.
- Kebaikan perilaku tanpa iman tidak memberi jaminan keselamatan akhirat.
Semua hal duniawi itu hanya bernilai jika disertai dengan iman dan takwa. Tanpa itu, semua pujian hanyalah semu, kosong, dan tidak berbuah apa-apa di hadapan Allah.
Pandangan yang Membebaskan Hati
Jika seseorang sudah menata pola pikirnya dengan benar, ia akan terbebas dari banyak penyakit hati:
- Tidak merasa minder di hadapan orang kaya.
- Tidak silau oleh popularitas atau jabatan.
- Tidak mudah iri pada kelebihan duniawi orang lain.
- Lebih fokus mengagumi siapa yang dekat dengan Allah.
Dengan pandangan seperti ini, hati menjadi tenang. Kita tidak lagi menilai manusia dari apa yang tampak fana, tetapi dari bagaimana ia menyiapkan dirinya menuju kehidupan yang kekal di akhirat.
📌 Kesimpulan:
Hidup di dunia ini hanyalah ujian. Maka yang paling bijak adalah menilai manusia dengan ukuran langit, bukan ukuran bumi. Jangan silau oleh kekayaan, jabatan, atau kecerdasan. Lihatlah pada agamanya, amal salehnya, dan takwanya. Sebab hanya itu yang benar-benar layak dipuji dan diteladani.
Orang yang cerdas bukanlah mereka yang terpukau pada gemerlap dunia, melainkan mereka yang kagum dan iri pada orang-orang beriman, orang-orang bertakwa, dan orang-orang yang banyak amal salehnya.
By: Andik Irawan